the death of the monoculture
mengapa sekarang tidak ada lagi satu lagu atau film yang diketahui semua orang
Pernahkah kita sedang asyik kumpul bersama teman-teman, lalu kita bertanya dengan penuh semangat, "Eh, kalian sudah dengar lagu viral yang baru ini belum?" Kita berasumsi karena lagu itu lewat belasan kali di beranda media sosial kita, pasti seluruh dunia juga sedang mendengarkannya. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Teman-teman kita menatap dengan wajah kosong. Mereka tidak tahu lagu apa itu. Tidak pernah dengar sama sekali. Di saat yang sama, mereka balik bertanya tentang sebuah serial hits yang katanya nomor satu di dunia, dan giliran kita yang kebingungan. Bagaimana mungkin kita hidup di hari yang sama, memegang gawai yang sama, tapi seolah berada di planet budaya yang berbeda-beda? Kejadian kecil ini sebenarnya adalah gejala dari sebuah fenomena besar yang sedang kita alami bersama. Sesuatu yang diam-diam telah lenyap dari peradaban kita tanpa kita sadari.
Mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Dulu, ada sebuah masa di mana budaya manusia diikat oleh apa yang para sosiolog sebut sebagai monoculture atau monokultur. Di era 90-an hingga awal 2000-an, pilihannya sangat terbatas. Stasiun televisi hanya itu-itu saja. Radio memutar tangga lagu yang seragam. Ketika sebuah film raksasa seperti Titanic rilis, atau ketika ada sinetron malam yang sedang naik daun, hampir seluruh populasi menontonnya. Keesokan paginya di sekolah, di kampus, atau di kantor, kita semua membicarakan hal yang sama. Keterbatasan teknologi pada masa itu secara tidak sengaja menciptakan perekat sosial yang luar biasa kuat. Secara psikologis, manusia adalah makhluk tribal. Otak kita berevolusi untuk mencari kesamaan dengan anggota suku yang lain agar kita merasa aman dan diterima. Mengonsumsi pop kultur yang seragam adalah cara termudah bagi kita untuk menemukan kesamaan itu, memberikan kita bahan obrolan instan dengan orang asing sekalipun.
Lalu, tibalah era internet berkecepatan tinggi. Awalnya, kita semua dijanjikan sebuah utopia. Internet seharusnya menjadi global village, desa global di mana kita bisa terhubung satu sama lain dengan lebih erat. Tapi anehnya, semakin banyak pilihan yang kita punya—jutaan lagu di Spotify, ribuan serial di Netflix, miliaran video di YouTube dan TikTok—kita justru semakin terpecah. Kita tidak lagi menunggu jam tujuh malam untuk menonton acara yang sama. Kita memutar apa saja, kapan saja, sesuai selera spesifik kita. Pergeseran sejarah dari broadcasting (siaran untuk semua) ke narrowcasting (siaran untuk segelintir) mulai terjadi. Tapi, tunggu dulu. Jika internet memberi kita kebebasan mutlak untuk memilih, mengapa kebebasan ini justru membuat kita kehilangan pijakan budaya bersama? Apakah ini murni karena banyaknya pilihan, atau ada kekuatan lain yang diam-diam membajak cara kerja otak kita saat kita sedang asyik menggulir layar?
Di sinilah kita menemukan jawaban ilmiahnya. Matinya monokultur bukanlah sebuah kebetulan; ia adalah hasil dari pembunuhan berencana yang dilakukan oleh algoritma. Di balik layar gawai kita, ada sistem kecerdasan buatan yang dirancang dengan satu tujuan: menahan perhatian kita selama mungkin. Bagaimana caranya? Dengan meretas sistem dopamin di otak kita. Dalam ilmu neurosains, dopamin bukan sekadar hormon kebahagiaan, melainkan hormon antisipasi dan motivasi. Algoritma dengan sangat cepat mempelajari kelemahan psikologis kita, merekam setiap klik, durasi tontonan, dan ketertarikan terdalam kita. Hasilnya adalah For You Page—sebuah realitas yang diciptakan khusus hanya untuk kita. Algoritma menyuapi kita dengan konten hiper-personal yang memicu lonjakan dopamin terus-menerus. Otak kita menjadi kecanduan pada relevansi yang ekstrem ini. Akibatnya, kita terkurung dalam echo chamber atau ruang gema kita sendiri. Kita menukar satu realitas budaya bersama dengan miliaran realitas individual yang terisolasi. Kita tidak lagi memiliki satu lagu atau film yang diketahui semua orang, karena secara neurologis, otak kita telah dilatih untuk hanya peduli pada apa yang paling memuaskan diri kita sendiri.
Mungkin saat menyadari hal ini, kita merasa sedikit sedih. Memang ada kehangatan yang hilang ketika kita tidak lagi bisa dengan mudah menebak apa yang sedang ditonton oleh tetangga atau teman sebangku kita. Tapi, mari kita lihat dari sudut pandang yang lebih penuh empati. Runtuhnya monokultur juga berarti lahirnya kebebasan berekspresi yang luar biasa. Subkultur yang dulu terpinggirkan kini bisa menemukan komunitasnya sendiri. Kita tidak lagi dipaksa untuk menyukai apa yang disukai mayoritas. Namun, dengan kebebasan ini, datang sebuah tanggung jawab sosial yang baru. Karena teknologi tidak lagi menyuapi kita dengan bahan obrolan yang sama, kitalah yang harus berusaha lebih keras untuk menjembatani perbedaan. Sekarang, saat kita nongkrong bersama teman-teman, kita tidak bisa lagi berasumsi bahwa kita hidup di dunia algoritma yang sama. Kita harus mulai bertanya, mendengar, dan dengan tulus bertamu ke dalam universe budaya orang lain. Dunia mungkin sudah tidak memiliki satu panggung utama lagi, tapi justru di situlah letak keindahannya: kita punya kesempatan untuk menjelajahi ribuan panggung kecil yang tak kalah menakjubkan, bersama-sama.